Awalnya hanyalah bulih-bulih kapas, oleh tangan-tangan terampil penuh cinta, bulih-bulih itu dipintal, diikat, diwarnai, dan ditenun. Yang pada akhirnya terbentuk selembar kain tenun ikat khas SUMBA TIMUR nan indah mempesona. Hinggi dan Lawu adalah ungkapan cinta yang begitu dalam oleh mama-mama pengrajin tenun ikat. Cinta akan pekerjaan yang memerlukan ketelitian, Cinta akan keindahan corak dan warna, Cinta akan Simbol filosofi penuh makna.
Untuk memelihara buah cinta itu, ialah dengan tetap memggunakan kain Sumba dan menjadikannya suatu kebanggaan. Berikut ini foto-foto Putra-Putri Sumba Timur dalam balutan Cinta "Matawai Amahu Pada Djara Hamu"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar